Sejarah Baru Ganda Putri Indonesia
Pada
pesta olahraga olimpiade Tokyo lalu, Indonesia berhasil mendapat medali emas
melalui pasangan Greysia Polii & Apriani Rahayu. Ganda putri andalan
Indonesia ini membungkam perlawanan ganda putri China, Chen Qingchen/Jia Yifan
dua set langsung 21-19 & 21-15 selama 55 menit. Ini merupakan pertemuan
ke-10 bagi keduanya. Sebelumnya Chen/Jia memimpin head to head dengan meraih 6
kemenangan. Greys/Apri & Chen/Jia kerap bertemu di berbagai turnamen,
terutama di turnamen major event. Mereka bertemu sebanyak 3 kali di
turnamen level 1 dan hasilnya Greys/Apri mengantongi 2 kemenangan. Tampaknya
pasangan China ini kerap kesulitan menghadapi ganda putri terbaik Indonesia
ketika tampil di turnamen grade 1.
Hasil
ini menggenapkan medali emas yang telah diperoleh Indonesia. Pasalnya sejak
olimpiade digelar pada tahun 1992, ganda putri belum pernah menyumbang sekeping
medali. Olimpiade Tokyo menjadi capaian terbaik bagi Greysia Polii setelah di
dua olimpiade sebelumnya tidak mendapat hasil yang maksimal. Pelatih ganda putri
Indonesia, Eng Hian juga berhasil menjawab keraguan orang-orang setelah
sebelumnya ia dianggap gagal dalam membawa anak didiknya ke pentas
perbulutangkisan dunia.
Dari
kabar yang beredar, Greysia Polii akan gantung raket dan tidak berlaga di Paris
2024. Kini tugas pengurus adalah mencari tandem yang cocok bagi Apriani dan
mematangkan atlet-atlet di sektor ini.
Agar sektor ganda putri Indonesia dapat terus eksis di jajaran elite
ganda putri dunia.
Berikut
road to final Greysia Polii/Apriani Rahayu:
Group A Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean (MAS) 21-14
21-17
Group A Chloe Birch/Lauren Smith (GBR) 21-11
21-13
Group A Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (JPN)
24-22 13-21 21-8
QF Du Yue/Li Yin Hui (CHN) 21-15
20-22 21-17
Semifinal Lee So Hee/Shin Seung Chan (KOR) 21-19 21-17
Final Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (CHN)
21-19 21-15




Komentar
Posting Komentar