Review Buku Berdamai dengan Diri Sendiri
Judul:
Berdamai Dengan Diri Sendiri Seni Menerima Diri Apa Adanya
Penulis :
Muthia Sayekti
Harga:
59.000
ISBN :
978-602-6595-97-3
Cetakan
Pertama : Oktober 2018
Penerbit:
Psikologi Corner
Mengapa
diri sendiri?
Sebab dia adalah musuh terhebat manusia. Dia terbilang sulit untuk
dikalahkan. Seseorang yang belum selesai berurusan dengan dirinya sendiri,
pastinya sulit untuk bisa peduli dan memberi manfaat untuk orang lain.
Tidak
percaya?
Banyak yang tidak menyadari bahwa konflik batin adalah permasalahan
vital yang sering terabaikan. Sejauh mana diri kita bisa menerima diri sendiri,
maka sejauh itulah kita bisa berdamai dengan kenyataan. Orang-orang yang sudah
berdamai dengan diri sendirilah yang mampu menjalani kehidupan yang penuh
tuntutan ini dengan lebih tenang.
Coba telaah lagi dirimu sambil membaca buku ini, di sana ada banyak
harta karun yang terkubur karena dirimu sendiri.
Buku ini merupakan buku self improvement pertama
yang aku baca. Aku tertarik karena topik yang dibahas dalam buku
ini. Buku ini membahas tentang beberapa hal yang dibagi menjadi 4 bab
yaitu berdamai dengan ketidaksempurnaan, melihat potensi diri, cara memandang
potensi orang lain dan kita adalah kita. Keempat bab ini saling
berkesinambungan satu sama lain. Pembahasan bermula dari penerimaan terhadap
setiap kekurangan dan kelebihan, serta menyadari bahwa diri kita juga memiliki
keunikan yang tidak dimiliki orang lain, lalu mencari potensi diri yang dapat
kita gali, menyadari bahwasanya setiap orang mempunyai "waktunya"
masing-masing dan
Menurutku, penulis menyampaikan pesan yang ia tulis dalam buku dengan
cukup baik. Bahasanya mudah dicerna dan contoh yang dimasukkan pun kerap
terjadi di masyarakat. Buku ini juga memuat kutipan-kutipan dari
buku-buku self improvement lain yang mendukung tulisan
penulis. Membaca buku ini serasa sedang mengikuti kelas konseling.
Kekurangan dari buku ini adalah penggunaan font berwarna kuning di
beberapa kalimat. Untuk orang yang mengenakan kacamata seperti saya, penggunaan
font berwarna kuning sangat mengganggu dan terasa kurang nyaman. Hal ini
membuat pembaca kesulitan membaca kalimat yang menggunakan font dengan warna tersebut.
Ada typo di halaman 124. Setelah "....dari para
tamu undangan.", ada kata tap, agak membingungkan. Penulis bermaksud
membuat kalimat lanjutan atau hanya sekadar typo. Sedikit
kekeliruan juga di halaman 157. "Terlalu irit, jatuhnya pelit. Terlalu
loyal, akibatnya boros.". Di sini mungkin yang dimaksud penulis royal ya,
bukan loyal.
Berikut
beberapa kutipan yang ada dalam buku ini :
"Many
of us are our own worst enemies." -Mike Robbins (halaman 31)
"Lagipula
orang-orang hebat tidak tercipta dari segala kenyamanan dan kemudahan hidup.
Tapi justru mereka yang sudah biasa terbentur, maka kelak orang-orang itulah
yang akan terbentuk. Sebab kualitas daya juangnya berbeda. Mereka yang sudah biasa
dihantam kesulitan dan kegagalan pastinya tidak akan mudah terpuruk ketika
mendapat kenyataan pahit. Mereka pun tidak akan cepat puas ketika sudah
mendapat satu keberhasilan." (halaman 47)
"Too
much happines will decrease your life quality." (halaman 58)
"Maka
dari itu, jangan sedih apabila bagian hidup yang membersamaimu adalah
bagian-bagian yang pahit, penuh luka, dan air mata. Dari sana banyak
orang-orang yang terlahir dengan jiwa yang lebih bijaksana. Dari bagian itu
pula banyak orang-orang yang tangguh, besar hatinya bukan kepalanya."
(halaman 61)
"Hidup
yang dipenuhi dengan kompetisi memang terdengar lebih menyenangkan dan
menantang. Tapi jauh sebelum itu, yang harus kita persiapkan adalah mental.
Dalam arena kompetisipun pemenang tidak akan menjadi jumawa di atas lawannya,
dan manusia bermental pemenang tidak akan kecil hati jika suatu ketika harus
menghadapi kekalahan. Siapa saja harus memiliki mental ini untuk bisa berdamai
dengan dirinya sendiri. Jika masih di dalam hatinya terbesit satu rasa tidak
terima akan kenyataan hidup yang pahit, maka sulit baginya untuk bertahan dalam
sifat kebaikan saat hidupnya berada di puncak kejayaan." (halaman 155)
"Mereka
yang bermental pemenang tidak akan sulit menerima kekalahan dan tidak mudah iri
ketika melihat orang lain berhasil. Mereka justru senantiasa ikut berbahagia
ketika orang-orang di sekitarnya begitu passionate dalam
meraih visi hidupnya. Sebab mereka sadar betul bahwasanya berjuang sendirian
dalam meraih cita-cita adalah sesuatu yang berat untuk dijalani dalam kurun
waktu yang lama." (halaman 173)
"Orang
yang hanya pandai beretorika tidak selamanya bisa mendapatkan kualitas
keberhasilan yang sama dengan mereka yang imbang dengan aksinya." (halaman
176-177)
"Menjalani
kehidupan tanpa tasa damai dalam diri sendiri membuat hidup kita cenderung
tidak tenang." (halaman 178)
"Setiap
dari kita memang diizinkan untuk bersedih saat menghadapi kegagalan. Namun,
tidak sepantasnya kita terlalu mendramatisir kesedihan yang kita rasakan. Ada
banyak hal indah yang menunggu kita di depan sana. Dan semua hal indah itu
tidak akan kita raih jika kita memilih berhenti dan mengubur potensi kita
dalam-dalam. Semua kesuksesan di masa depan itu hanya akan menjadi angan-angan
apabila kita hanya fokus pada kegagalan dan kekurangan yang kita miliki. Semua
mimpi kita tetap akan menjadi mimpi jika kita tidak bisa seimbang antara
mewujudkan mimpi kita sendiri dan mewujudkan ekspektasi orang lain."




Komentar
Posting Komentar