Resensi Novel A Untuk Amanda

Judul:            A Untuk Amanda

Pengarang:    Annisa Ihsani

Penerbit:       Gramedia Pustaka Utama

Editor:           Yuniar Budiarti

Proofreader: M. Aditiyo Haryadi

Sampul:         Orkha Creative

Tebal:             264 Halaman

Terbit:            Maret, 2016

Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.

 

 

Ini adalah novel Annisa Ihsani pertama yang saya baca. Awalnya saya agak bingung dengan gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini, seperti novel terjemahan. Selain itu, latar tempat di novel ini juga tidak nyata tapi kalau menurut saya latar tempat yang digunakan tidak di Indonesia mengingat dalam novel ini diceritakan anak SMA baru mulai sekolah pada bulan September. Namun, dalam novel ini beberapa menggunakan nama Indonesia, Arif salah satunya. Tapi, semua itu tidak menganggu kenyamanan aku saat membaca novel ini hingga selesai.

Novel ini mengangkat tema yang cukup unik, jika biasanya novel young adult lebih dominan di romancenya, sedangkan di novel ini lebih bercerita tentang penderita depresi. Hal inilah yang menjadi daya tarik dari buku ini. Pasalnya masa remaja tidak hanya seputar percintaan saja, ada kalanya remaja juga dihadang berbagai permasalahan, tingginya ekspektasi orang sekitar & rasa cemas yang kerap datang. Saya rasa buku ini banyak orang yang akan relate dengan keadaan si tokoh utama.

Dalam novel ini, diceritakan Amanda selalu merasa dia tidak sepintar yang orang kira, membuatnya merasa tidak pantas mendapatkan nilai A. Pada umumnya, penulis memberikan kunci permasalahan di akhir, namun, di novel ini kita dapat mengetahui permasalaham apa yang dialami Amanda jauh lebih awal, serta menebak-nebak apa faktor penyebabnya. Faktor ini menyebabkan pembaca jauh lebih memahami apa yang dirasakan oleh tokoh utama.

Dari sekian banyak novel young adult yang saya baca, saya pikir novel ini salah satu yang terbaik. Dalam novel ini kita dapat mengambil banyak pelajaran, seperti, tidak ada yang bisa berhasil sepanjang waktu, jika dia benar-benar temanmu, dia tidak akan meninggalkanmu, ketika kita mendapatkan nilai jelek  itu bukan akhir segalanya, karena sukses atau tidaknya seseorang tidak berdasarkan nilai yang kita raih di bangku sekolah, serta nilai yang kita raih di sekolah bukan tolak ukur kebahagiaan seseorang. Buku ini tidak hanya recomended bagi para remaja, namun bagi semua orang yang masih merasa kurang percaya diri dan terus meragukan diri sendiri.

Dari novel ini pula saya mendapat kutipan menarik, seperti:

“Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dengan hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna.”

“Tidak ada yang bisa berhasil sepanjang waktu. Di sisi lain, tidak ada yang bisa gagal dalam segala hal. Setiap orang punya jatah kesuksesan dan kegagalan.”

Komentar

POPULER