Resensi Novel Selena

 


Judul:                        Selena

Penulis:                     Tere Liye

Co-author:                Diena Yashinta

Cetakan Kelima:      September 2020

Penerbit:                   Gramedia Pustaka Utama

Halaman:                  368 halaman

ISBN:                         9786020639512

 

"Selena" dan "Nebula" adalah buku ke-8 dan ke-9 yang menceritakan siapa orangtua Raib dalam serial petualangan dunia paralel. Dua buku ini sebaiknya dibaca berurutan. Kedua buku ini juga bercerita tentang Akademi Bayangan Tingkat Tinggi, sekolah terbaik di seluruh Klan Bulan. Tentang persahabatan tiga mahasiswa, yang diam-diam memiliki rencana bertualang ke tempat-tempat jauh. Tapi petualangan itu berakhir buruk, saat persahabatan mereka diuji dengan rasa suka, egoisme, dan pengkhianatan. Ada banyak karakter baru, tempat-tempat baru, juga sejarah dunia paralel yang diungkap. Di dua buku ini kalian akan berkenalan dengan salah satu karakter paling kuat di dunia paralel sejauh ini. Tapi itu jika kalian bisa menebaknya. Dua buku ini bukan akhir. Justru awal terbukanya kembali portal menuju Klan Aldebaran.

 

 

Jika buku pertama (bumi) hingga buku ke tujuh (komet minor) menceritakan petualangan Raib, Seli dan Ali di dunia paralel, buku ke delapan ini mengisahkan perjalanan hidup Miss Selena. Cerita ini bermula saat Selena masih tinggal di Distrik Sabit Enam hingga kematian kedua orang tuanya. Kemudian ia pindah ke Kota Tishri dan tinggal bersama pamannya, Raf, hingga menempuh pendidikan di Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT).

Berbeda dengan sebelumnya, novel ini cenderung lebih ke biografi dari Miss Selena. Sejak buku pertama, saya penasaran dengan cerita dari sudut pandang Miss Selena. Selena yang dulunya sempat jadi murid Tamus, justru malah bertarung melawannya di buku pertama agar Raib dkk dapat meloloskan diri dari kejaran Tamus. Ternyata Tamus bukan hanya guru bagi Miss Selena, tapi juga orang yang ikut “membantunya” masuk Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT).

Ketiga tokohnya (Selena, Mata dan Tazk) mirip dengan tiga karakter utama dalam series. Interaksi Selena ke Tazk mengingatkan saya akan interaksi Raib ke Ali. Mata juga mirip dengan sifat Seli. Dari sifat Tazk agak beda sih dari Ali, tapi keduanya sama-sama cerdas.

Jika dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya, saya merasa buku ini lebih menjemukan. Alur cerita dalam novel ini sangat lambat mungkin karena penulis ingin menggambarkan setiap aktifitas mahasiswa di ABTT, mulai dari kegiatan belajar mengajar, pelajaran wajib dan tambahannya, ujian, serta budaya bullying & senioritas yang kerap kita temui di instansi pendidikan. Ditambah lagi ada detail misi-misi yang diberikan Tamus ke Miss Selena.

“Dunia kita dekat sekali dengan kegelapan. Maka saat gelap menyelimutimu, pastikan kamu tetap berusaha mencari cahaya di sekitarmu. Dirimu sendiri adalah satu-satunya yang bisa kaupercaya. Nurani. Cahaya kecil itu selalu ada di hatimu. Gunakanlah. Terangi jalanmu, temukan pilihan hidupmu. Semoga itu bisa membawamu menuju jalan yang lebih baik.” -halaman 339

Novel ini hanya memuat awal mula konflik yang baru akan muncul di buku selanjutnya. Identitas orang tua Raib juga belum diketahui hingga halaman terakhir buku ini, namun, saya pikir pembaca akan menyadarinya bahkan sebelum membaca buku selanjutnya. Di sini juga digambarkan ada klan lain yang selama ini belum pernah pembaca temui dan akan dibahas di buku ke sembilan.

Komentar

POPULER